Beragama, Ikut Siapa Ya?

Beragama, Ikut Siapa Ya?

 

Bismillah. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’iin. Amma ba’du.

Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, dan sesungguhnya ummatku akan terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang semuanya berada di Neraka, kecuali satu golongan, yakni “al-Jama’ah.”

Shahih Ibnu Majah No. 3227

Islam diturunkan oleh Rabb yang kita Imani kepada seorang manusia bernama Muhammad ﷺ. Sumber hukum Islam yang murni merupakan wahyu dari langit dan dijadikan rujukan cara beragama terdiri dari Al Qur’an dan Hadits, di samping sumber lain yang merupakan derivasinya seperti Ijma’ (kesepakatan para ulama) dan qiyas (penganalogian) yang benar.

Sumber ini terjaga meskipun ada jurang waktu yang cukup lama antara masa diturunkannya wahyu berupa Al Qur’aan dan Hadits dengan masa kini selama 14 abad. Allah telah menjanjikan dalam Q.S. Al Hijr ayat 9 bahwa Al Qur’an akan terus dijaga keotentikannya, tanpa perubahan. Untuk menjaga keotentikan Hadits, terdapat ilmu sanad untuk mengetahui secara berantai jalanya orang-orang yang meriwayatkan hadits. Orang-orang yang diterima haditsnya dalam rantai ini pun memiliki kriteria yang diteliti dulu seperti kejujurannya, kekuatan hafalannya, guru-gurunya, aktivitas dan akhlaq sehari-harinya, dan kriteria lain agar terjamin bahwa orang ini benar-benar jujur dalam menyampaikan hadits.

Sumber yang terjaga tidak menjamin Islam menjadi seragam secara lintas ruang dan waktu. Misalnya sejak zaman para shahabat pasca wafatnya Nabi ﷺ, terjadi banyak perpecahan dalam beragama meskipun semua pihak mengklaim mengikuti Al Qur’an dan Hadits. Dari sini terlihat bahwa jika inputnya sama tetapi outputnya berbeda, bisa jadi pemahaman terhadap sumber hukum Islam ini yang berbeda-beda dari pemahaman asli saat diturunkan. Maka dari itu kita harus berusaha untuk memilah, pemahaman mana yang asli sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan.

Dari segala klaim kebenaran beragama, ada satu jalan sederhana dalam memncari pemahaman yang asli. Harus dipahami bahwa Al Qur’an dan Hadits pada asalnya diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabat. Sehingga, setiap ada ayat yang belum dimengerti atau hukum yang masih ambigu, para sahabat akan langsung menanyakannya kepada Nabi ﷺ sehingga dapat dikatakan sebagai kelompok orang yang paling mengerti tentang Islam dengan makna dan penerapan asli dari setiap ayat Al Qur’an dan Hadits.

Mungkin akan sering kita dapati tokoh-tokoh masyarakat, baik itu tokoh politik atau raja sekalipun berbicara perihal agama, harus kita ingat bahwa bisa saja mereka lupa atau keliru sehingga tidak dapat menjadi patokan berislam. Tetapi sebagai umat muslim yang hidup jauh dari era kenabian, kita harus kritis dengan tidak hanya menyandarkan keimanan dan amal ibadah kita pada Al Qur’an dan Hadits semata, tetapi juga harus memastikan bahwa itu sesuai dengan pemahaman asli yang diajarkan kepada para shahabat Nabi ﷺ.

“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha pada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya itulah kemenangan yang besar”

Qur’an Surah At-Taubah 9:100

 

Wallahu a’lamu bishawab.

 

Disusun oleh N.A. Mawaddah Rachmadani, Wahyu Adji N.R.

Badan Pengurus Harian Departemen Kajian Strategis Dakwah FSI FEB UI 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *