Belajar dari Sholat Berjamaah

Belajar dari Sholat Berjamaah

Oleh: Muhammad Naufal Yunas – Akuntansi 2014

Moslems of all countries, Unite!

Indonesia, sebagai salah satu negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia pun sering kalanya menyelesaikan masalah kehidupan yang tidak mencerminkan bahwa mereka membawa cara-cara islami di dalamnya. Memang, tidak ada jaminan yang pasti bahwa seorang muslim akan selamanya menggunakan prinsip-prinsp Islam dalam menghadapi suatu masalah. Namun, sebagai manusia yang beruntung, yaitu sebagai seorang muslim, setidaknya kita haruslah mencoba untuk menerapkan prinsip Islam dalam menyelesaikan masalah. Sudah sangat lama Islam ada di muka bumi ini. Namun, tidak banyak dari kita yang bisa mengkaji Al-Qur’an dan Hadist secara kaffah, dan tidak banyak pula dari kita yang bisa mengaplikasikan kaidah-kaidah Islam dalam kehidupan. Padahal, apabila kita saksikan di banyak media massa, sudah banyak ilmuwan-ilmuwan masuk Islam gara-gara hanya membaca beberapa ayat Al-Qur’an atau Hadist dan ayat-ayat itu menjadi landasan utama mereka untuk menciptakan suatu terobosan (breakthrough) baru dalam ilmu pengetahuan.

Dalam Islam, sholat adalah rukun Islam yang kedua setelah syahadat. Apabila kita melihat dari rukun Islam yang lainnya, sholat merupakan rukun Islam yang paling mudah untuk dilaksanakan. Namun, banyak dari kita yang kurang konsisten dalam menjalankannya, entah itu dari segi waktu sholat yang terburu-buru, sholat yang tidak khusyu karena banyaknya masalah duniawi, dan bahkan banyak diantara kita yang sudah menunggalkan sholat baik secara perlahan-lahan dan secara keseluruhan (tidak sholat sama sekali). Allah tidak pernah memaksa hamba-Nya untuk melaksanakan sholat, namun Allah hanya menyuruh kita untuk menjalankan tugas kita sebagai hamba-Nya, dan dari sholat ini kita bisa berkomunikasi dengan Allah. Bukan hanya itu, sholat juga diperintahkan Allah untuk kita agar kita memperoleh pengetahuan tambahan tentang esensi sholat itu sendiri. Sebenarnya, sudah banyak yang diajarkan Allah melalui sholat untuk manusia. Berikut adalah beberapa ilmu dasar yang dapat diperlajari dari sholat:

Manajemen

Dalam dunia yang kompleks saat ini, banyak dari kita yang selalu menghadapi masalah manajerial yang kompleks dan rancu. Para penggagas teori manajemen awal seperti Henri Fayol, Max Weber, dan yang lainnya mungkin akan tercengang bila teori mereka sebenarnya sudah diajarkan Islam beberapa abad silam sebelum teori mereka bermunculan. Sholat yang diajarkan Islam bukanlah sekedar sholat sendirian (munfarid) namun juga sholat berjamaah. Bahkan, sholat berjamaah memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan shola sendirian, dalam artian bahwa sholat berjamaah lebih ditekankan kepada umat Islam untuk dilaksanakan. Di dalam sholat berjamaah, ada imam dan makmum. Imam sebagai berkedudukan sebagai pemimpin dalam sholat dan makmum akan mengikuti imam. Ada beberapa prinsip manajemen yang digagas Fayol yang telah diajarkan oleh sholat berjamaah:

  1. Unity of command, yaitu setiap subordinate (makmum) menerima perintah dari satu atasan, sehingga perintah yang diterima tidak tumpang tindih. Dalam sholat berjamaah, imam bertugas untuk memimpin jalannya sholat berjamaah dengan memberikan komando yang jelas, sehingga semua makmum dapat mengikuti imam dengan baik. Makmum juga tidak boleh mendahului imam, karena akan merusak jalannya sholat berjamaah yang rapi dan teratur. Jika hal ini dilakukan, maka sholat yang dilakukan makmum batal.
  2. Equity, yaitu pemimpin bersikap adil terhadap semua pengikut. Imam tidak boleh hanya memimpin satu makmum jika makmum secara keseluruhan berjumlah 10 orang, misalnya. Semua makmum harus dipimpin. Dalam banyak dalil pun tidak ada satu ayat pun yang menjelaskan bahwa pahala yang diperoleh imam dan makmum berbeda. Baik imam dan makmum, insya Allah akan mendapatkan pahala yang sama dari Allah, yaitu 27 derajat lebih tinggi dibandingkan sholat munfarid. Seperti dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari:

Dari Abdullah bin Umar  radhiyallahu ‘anhubahwaRasulullah Shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda,

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan 27 derajat.”

  1. Stability of tenure of personnel, yaitu ketika harus ada yang mengisi kekosongan dan mengganti mereka yang tidak dapat lagi menjalankan tugasnya. Contohnya, dalam sholat berjamaah ketika imam ditengah melaksanakan sholat tiba-tiba membuang hadast (katakanlah membuang angin) maka hal ini dapat membatalkan wudhu dan imam harus diganti oleh makmum yang berada tepat dibelakangnya, dan kemudian imam pengganti tersebut melanjutkan rukun sholat yang selanjutnya.
  2. Espirit de Corps, yaitu mempromosikan semangat kerja sama tim (team spirit) dan menciptakan harmoni atau keselarasan dalam organisasi. Hal ini diaplikasikan dalam sholat berjamaah ketika semua makmum get involved di dalam sholat berjamaah, dan imam dapat membimbing makmum dan juga harus bisa menerima feedback dari makmum. Contoh, ketika imam melakukan kesalahan dalam sholat berjamaah, maka makmum laki-laki wajib untuk mengatakan subhanallah(Maha Suci Allah) dan makmum wanita wajib untuk menepuk paha. Hal ini bertujuan untuk terciptanya sholat berjamaah yang selaras, teratur, dan sesuai dengan rukun sholat yang ada.

Disamping itu, sholat berjamaah juga mengajarkan kita tentang beberapa prinsip birokrasi yang ideal menurut Max Weber. Contohnya, imam harus memberikan instruksi yang jelas kepada makmum, kapan saatnya rukuk, sujud, dan sebagainya. Hal ini sesuai dengan prinsip authority hierarchy yang berarti bahwa posisi dalam organisasi harus dibentuk berdasarkan hirarki dan dengan alur perintah yang jelas (clear chain of command). Walaupun dalam praktik sholat berjamaah menggunakan struktur flat organization, yaitu ketika satu pemimpin membawahi semua subordinat, dan tidak terdapat lapisan lain (delayering organization), namun hal ini memiliki keuntungan berupa kejelasan alur perintah, dan juga komunikasi yang dilaksanakan lebih cepat dibandingkan dengan tall organization, yaitu ketika terdapat banyak lapisan atau hirarki yang menjadikan komunikasi berjalan relatif lambat.

Politik demokrasi

Sholat berjamaah juga mengajarkan kita tentang sistem politik yang demokratis dan ideal. Dengan menggunakan contoh yang telah disampaikan diatas, yaitu ketika makmum harus mengoreksi kesalahan imam, disini terjadilah sistem check and balance yaitu ketika di satu pihak (imam) menjalankan tugasnya untuk memimpin makmum, dan disisi lain makmum menjalankan tugasnya untuk mengikuti imam dan menyampaikan koreksi atas kesalahan imam. Sholat berjamaah juga menerapkan sistem demokrasi, yaitu ketika imam dipilih dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Maksudnya, imam dipilih dari kesepakatan makmum dan bukanlah eprwakilan dari partai politik, bisnis, pemuka agama, dan lain sebagainya. Adapun kriteria seorang muslim yang berhak menjadi imam telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  dalam sebuah hadits secara berurutan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا، وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Yang berhak menjadi imam shalat untuk suatu kaum adalah yang paling pandai dalam membaca al-Qur’an. Jika mereka setara dalam bacaan al- Qur’an, (yang menjadi imam adalah) yang paling mengerti tentang sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Apabila mereka setingkat dalam pengetahuan tentang sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, (yang menjadi imam adalah) yang paling pertama melakukan hijrah. Jika mereka sama dalam amalan hijrah, (yang menjadi imam adalah) yang lebih dahulu masuk Islam.” (HR. Muslim no. 673 dari Abu Mas’ud al-Anshariradhiyallahu ‘anhu) Dalam riwayat lain, ada tambahan lafadz,

فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَكْبَرُهُمْ سِنًّا

“Jika mereka sama dalam amalan hijrah, (yang menjadi imam adalah) yang paling tua di antara mereka.”

Dengan demikian, yang paling berhak menjadi imam shalat secara berurutan adalah;

  1. Yang paling pandai membaca al-Qur’an. Jika sama-sama pandai,
  2. Yang paling mengerti tentang sunnah Nabiradhiyallahu ‘anhu. Jika sama-sama mengerti,
  3. Yang paling pertama melaksanakan hijrah. Jika sama dalam hal hijrah,
  4. Yang lebih dahulu masuk Islam. Jika bersama masuk Islam,
  5. Yang lebih tua.

Disamping itu, sistem politik demokrasi yang di ajarkan Islam secara tegas menolak konsep politik otoriter. Imam yang dianggap tidak sanggup lagi memimpin harus segera diganti oleh makmumnya. Seperti contoh yang dikemukakan diatas, bahwa imam harus bersedia untuk diganti bila terjadi suatu hal ditengah berjalannya sholat berjamaah yang bisa membatalkan wudhu imam tersebut. Selain itu juga, makmum diwajibkan untuk memberikan koreksi terhadap kesalahan yang dilakukan imam seperti membaca kalimat subhanallah bagi makmum laki-laki dan menepuk paha bagi makmum wanita. Mengapa hanya sebatas ini? Supaya sistem feedback yang berjalan tidak menimbulkan chaos yaitu ketika semua makmum berpendapat berbeda dan imam bingung untuk melaksanakannya, sehingga sholat berjamaah bisa rusak. Konsep ini cocok untuk diaplikasikan dalam upaya penyampaian aspirasi kepada pemerintah supaya melewati proses yang baik dan teratur agar tidak terjadi tirani demokrasi.

 

Kesetaraan pendapatan (Income equality)

            Walaupun sholat berjamaah sudah dilakukan jauh sebelum nenek atau kakek kita yang hidup di zaman feodalistik dan masa penjajahan lahir, sholat berjamaah juga sebenarnya sudah memberikan kita konsepsi bagaimana seharusnya kesejahteraan masyarakat akan tercapai, yaitu dengan semakin meratanya pendapatan dan makin sempitnya kesenjangan sosial. Di masa feodalistik, yaitu ketika kekuasaan dipegang oleh pemilik lahan dan dikelilingi oleh para kroni yang berasal dari kalangan militer, kesenjangan sosial antara sang pemilik tanah dan pekerja sangat tinggi, karena pekerja tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk meminta upah yang lebih tinggi. Sebenarnya, apabila mungkin para pemilik lahan itu sudah melaksanakan sholat berjamaah sebelumnya, dan mereka tahu esensi dibalik sholat berjamaah, sistem pemerintahan yang feodalistik dan berbau kolonialisme ini seharusnya berumur pendek. Selama berpuluh abad sholat berjamaah diperintahkan, BELUM DAN TIDAK AKAN ADA dalil yang menyatakan bahwa imam akan mendapatkan pahala yang berbeda dari makmum. Itulah sebabnya, Islam sangat mendukung adanya konsepsi kesetaraan pendapatan yang kemudian diaplikasikan dalam bentuk zakat, sedekah, dan lain sebagainya. Konsepsi kesetaraan pendapatan dan hak-hak manusiawi sebenarnya sudah ada dan berasal dari sholat berjamaah.

Sebagai ringkasan, sholat berjamaah rupanya telah memberikan kita banyak sekali esensi dan konsepsi dasar untuk menyelesaikan masalah duniawi. Hal ini juga menjadikan bahan utama untuk berargumen bahwa ideologi Islam dalam kancah perpolitikan atau sistem ekonomi merupakan suatu konsepsi yang sangat mendukung kesejahteraan rakyat yang tentunya masih tetap mengenal Tuhan sebagai penentu kesejahteraan dan hakim yang paling adil.

 

Daftar Pustaka

Robbins, Stephen P., dan Coulter, Mary. (2005). Management.(Ed. ke-8). New Jersey: Pearson Education, Inc.

Stimpson, Peter dan Farquharson, Alastair. (2012). Cambridge International AS and A Level: Business Studies.(Ed. ke-2). Cambridge: Cambridge University Press.

http://asysyariah.com/kajian-utama-keutamaan-shalat-berjamaah/ (diakses 13 Maret 2015)

http://asysyariah.com/hadits-kriteria-imam-dalam-shalat/(diakses 13 Maret 2015)

One thought on “Belajar dari Sholat Berjamaah

  1. Anon

    Artikelnya bagus, fsi hrs lbh sering nulis artikel yg kayak gini, lebih aplikatif sehingga tdk muncul kesan kuno. Saran: masih ada awal paragraf yg ke-tab dan typo krng space

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *