Press Release: Bedah Buku “Ketika Mas Gagah Pergi”

Press Release: Bedah Buku “Ketika Mas Gagah Pergi”

Membangun Generasi Islam yang Peka terhadap Nilai-nilai Islam melalui Karya Sastra

            Bedah Buku PKM FSI FEBUI merupakan salah satu prodak (program dakwah) Forum Studi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang berada di bawah tanggung jawab departemen PKM (Perpustakaan dan Kemakmuran Musholla). Acara bedah buku yang dilaksanakan pada tanggal hari Selasa, 28 April 2015 lalu mengangkat tema “Membangun Generasi Islam yang Peka terhadap Nilai-nilai Islam melalui Karya Sastra”.Pada acara bedah buku ini, panitia menghadirkan penulis novel “Ketika Mas Gagah Pergi”, Helvy Tiana Rosa sebagai pembicara dan pembedah dari isi buku novel tersebut.

Acara Bedah Buku PKM FSI FEBUI dilaksanakan di Student Center FEB UI. Pukul 09.10, acara dibuka oleh MC Nanang Dwi Setiawan (Akuntansi 2014), dan dilanjutkan dengan pembacaan Al-Qur’an oleh Abdurrahman Ahmad Idrus Salam (Akuntansi 2014). Pukul 09.30, Muhammad Irham Kurniawan (Akuntansi 2013) selaku Project Officer Bedah Buku memberikan sambutan, yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Umum FSI FEBUI, M. Jatiardi Fitrianto (Akuntansi 2012). Acara dilanjutkan dengan inti acara, yaitu bedah buku “Ketika Mas Gagah Pergi” oleh penulisnya, Helvy Tiana Rosa dengan dengan dipandu oleh moderataor Ibrohim Abdul Halim (Ilmu Ekonomi 2013). Dan hiburan marawis oleh grup marawis SMA N 53 Jakarta.

Ulasan mengenai buku “Ketika Mas Gagah Pergi” yang dipaparkan oleh Helvy diawali dengan pengakuannya bahwa untuk menulis novel tersebut, dia terinspirasi oleh kisah nyata pertemuannya dengan Gita di daerah Kemayoran dan keinginan Helvy untuk memiliki seorang kakak laki-laki. Oleh sebab itu, Helvy menciptakan sosok Mas Gagah di dalam imajinasinya. Bermula dari situ, dia memiliki niat untuk menuangkan imajinasinya tersebut ke dalam sebuah tulisan berupa novel.

Menurut Helvy, buku “Ketika Mas Gagah Pergi” tidaklah langsung berupa novel yang seperti sekarang ini. Berawal dari tugas kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1992, Helvy mencoba untuk membuat sebuah cerpen yang berjudul sama, “Ketika Mas Gagah Pergi”. Jadi, sudah sekitar 23 tahun sejak cerpen tersebut pertama kali ditulis. Pada tahun 1993, cerpen karyanya tersebut pernah dimuat di majalah Annida. Walau demikian, Helvy menuturkan bahwa hasil karyanya pernah juga ditolak oleh beberapa penerbit.

Barulah pada tahun 1997 karya Helvy terbit sebagai sebuah buku yang menurut pengakuannya terjual hingga 10.000 eksemplar dalam satu minggu bahkan sebelum dicetak sebagai buku. Novel “Ketika Mas Gagah Pergi” mengalami cetak ulang sebanyak 27 kali. Helvy menambahkan, novel “Ketika Mas Gagah Pergi” karyanya itu disebut sebagai pelopor fiksi Islami kontemporer oleh Republika dan The Straits Times.

Novel “Ketika Mas Gagah Pergi” telah memperoleh berbagai tanggapan positif dari berbagai kalangan mulai dari sesama penulis, dosen, sosiolog, bahkan hingga artis. Berikut adalah beberapa tanggapan mengenai novel “Ketika Mas Gagah Pergi”.

Cerita Mas Gagah membuat saya tergugah menulis fiksi Islami. Tokoh Gagah akan menjadi legenda.” (Gola Gong – Penulis novel)

“Imajinasi dan kreativitas Helvy luar biasa! Ceritanya bagus dan enak dibaca, dengan benang merah keislaman yang tebal yg jarang tampak pada cerpen-cerpen Indonesia sebelumnya.” (Ismail Marahimin – Dosen FSUI, Penulis, Peraih Hadiah Sastra Peagasus Prize dari Amerika Serikat)

“Buku KMGP sudah banyak menginspirasi orang. Buku ini juga sudah buat saya menangis. Ayo dukung filem-nya!” (Abdur – Runner Up Stand Up Comedy Indonesia 4)

Helvy memberikan beberapa kesimpulan terkait novel “Ketika Mas Gagah Pergi”. Menurutnya, novel “Ketika Mas Gagah Pergi” merupakan kisah yang pas untuk dibaca semua kalangan usia, terutama remaja. Dengan berkali-kali cetak ulang hingga sekarang, menandakan buku ini sangat disukai, padahal kisahnya sudah ditulis sejak 22 tahun yang lalu. Banyak pembaca merasa tercerahkan dan berubah ke arah yang lebih baik setelah membaca novel tersebut.Helvy menambahkan, tokoh Mas Gagah yang terdapat dalam novelnya tersebut bisa menjadi role model remaja Indonesia. Di tengah krisis moral yang tengah terjadi di Indonesia, novel “Ketika Mas Gagah Pergi” mengajak pada kepedulian, cinta, dan nilai-nilai Islam tanpa adanya unsur menggurui.

Pada acara Bedah Buku PKM FSI FEBUI itu pula, Helvy mengajak para peserta yang hadir untuk mendukung pembuatan film “Ketika Mas Gagah Pergi”. Menurutnya, dengan di-film-kannya novel “Ketika Mas Gagah Pergi” akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat luas. Hal ini dikarenakan film merupakan salah satu sarana syiar dan dakwah yangsangat efektif. Film juga merupakan bagian dari dakwah elegan tanpa menggurui.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *