70 Tahun Setelah Nakba: The Palestinian Exodus

70 Tahun Setelah Nakba: The Palestinian Exodus

70 Tahun Setelah Nakba: The Palestinian Exodus

Assalamualaikum, Sahabat!

​Desember lalu, Donald Trump mengumumkan kepada media bahwa ia akan memindahkan kedutaan besar AS untuk Israel dari Tel Aviv menuju Yerusalem. Hal ini, menurutnya, merupakan langkah besar untuk membawa perdamaian pada konflik Israel-Palestina. Sebaliknya keputusan tersebut akan membawa konflik menjadi lebih parah. Sebagai representasi muslim di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, FSI FEB UI menyatakan dengan tegas TIDAK SETUJU dan MENGUTUK kebijakan tersebut.

Pertimbangan kami berdasarkan beberapa fakta historis dan proyeksi berlanjutnya kejahatan manusia yang mungkin sekali terjadi di Palestina.

​Dalam memahami status Yerusalem, kita perlu melihat The UN Palestine Partition Plan 1947 yang dibuat karena besarnya jumlah yahudi penganut zionisme yang bermigrasi dari Eropa menuju Palestina. Jumlah yang besar ini menimbulkan berbagai konflik dan banyak di antaranya berujung pada kekerasan, sehingga menurut Inggris, sebagai kolonial pada masa itu, dan PBB pemisahan yang adil bagi keduanya sangatlah penting. Pemisahan ini ditujukan agar Palestina mendapatkan kemerdekaannya dan Israel mendapatkan sebuah negara. Namun, dalam Partition Plan 1947 secara jelas dinyatakan bahwa kota Yerusalem tidak menjadi miliki kedua pihak melainkan menjadi sebuah zona internasional karena di dalamnya terdapat situs suci bagi umat muslim, kristen, dan yahudi.

​Setelah terjadi peperangan yang menyebabkan hilangnya sebagian besar tanah berdaulat Palestina, Israel melecehkan perjanjian internasional tersebut dengan membuat pemukiman di banyak titik di tanah Palestina yang tersisa termasuk di daerah Yerusalem Timur. Pemukiman yang mengeksklusikan warga Palestina semakin memecah-mecah tanah Palestina dan mengakibatkan lebih kurang 700.000 penduduk Palestina bermigrasi ke negara Arab di sekitarnya. Pada titik ini, sudah jelas bahwa pendudukan Yerusalem bukanlah sebuah usaha perdamaian melainkan usaha agar Palestina tidak akan mendapatkan kemerdekaannya.

​Lalu apa yang akan terjadi pada rakyat Palestina ketika Amerika memindahkan kedutaannya ke Yerusalem sebagai bentuk pengakuan bahwa kota tersebut adalah ibukota Israel?

Nakba. Nakba, secara harfiah berarti ‘Bencana’, merupakan hari di mana ratusan ribu penduduk Palestina diusir dari rumah mereka sendiri oleh para pendatang pada tahun 1948. Kejadian ini jelas akan terulang kembali karena dengan pengukuhan Yerusalem sebagai ibukota Israel mereka dapat dengan leluasa untuk lebih menyudutkan para penduduk Palestina yang pada saat ini telah seperti tahanan di negeri sendiri. Tak lupa jatuhnya Masjidil Aqsha, sebagai salah satu situs suci Islam, ke tangan Israel yang menjadikan kehancurannya seolah tak terelakkan.

Kami menghimbau umat Islam untuk melakukan beberapa langkah nyata, antara lain :
1. Memberikan bantuan materi dan doa kepada rakyat Palestina karena mereka adalah saudara muslim kita yang WAJIB kita dukung.
“Orang mukmin dengan mukmin lainnya laksana satu bangunan, satu dengan yang lainnya saling menguatkan.” (Muttafaq ‘alaih)
2. Menyerukan seruan JIHAD untuk tanah Palestina, karena Jihad adalah perintah yang wajib dilaksanakan setiap kaum muslimin. Berjihadlah dengan kemampuan kalian baik secara harta dengan banyak berinfaq, jiwa dengan turun langsung dalam setiap aksi demonstrasi atau penyampaian pendapat dan lisan dengan menyebarkan seruan kecaman dan pengutukan atas kezaliman yang dialami rakyat Palestina
“Berjihadlah memerangi orang-orang musyrik dengan harta, jiwa dan lisan kalian,” (HR. Ibnu Majah)

===============
Departemen Kajian dan Aksi Strategis Dakwah
FSI FEB UI
Rumah Ukhuwah Kita
#SpreadingWisdom | 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *