3 Kinds of Relationship Goals that You Should Have

3 Kinds of Relationship Goals that You Should Have

Oleh: Nabilah Choerunisa

Wakil Kepala Departemen Kajian Strategis Dakwah FSI FEB UI 2016

Siapa yang tidak mengenal istilah Relationship Goals  yang saat ini sedang booming dikalangan remaja pengguna media sosial? Istilah ini seakan-akan menjadi salah satu ‘prestasi’ yang dapat di raih kemudian di banggakan pada publik. Sebenarnya apa itu relationship goals? Apa istilah tersebut terbatas hanya pada  muda mudi yang sedang dimabuk cinta?

Penulis belum bisa menemukan sumber original yang pertama kali membuat istilah Relationship Goals, namun dalam hemat penulis terdapat beberapa hal yang berperan dalam menyebarkan istilah tersebut, salah satunya akun media sosial Tumblr yang kontennya khusus menyajikan kutipan dan gambar dengan kutipan mengenai hubungan percintaan, kemudian di unggah kembali oleh beberapa orang pada jenis media sosial yang lain sehingga menjadi sangat viral. Seiring bertambahnya jenis media sosial dan meningkatnya kemudahan untuk mengakses media sosial tersebut, Relationship Goals kini seakan menjadi gaya hidup yang harus dimiliki oleh pasangan remaja.

Namun benarkah Relationship Goals hanya sebatas pada pacar? Apakah di dunia ini manusia hanya menjalin hubungan dengan sang pacar?

Sebagaimana kita ketahui manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Hidup kita banyak diisi oleh peran orang lain yang membentuk diri kita sekarang, seperti peran orang tua, guru dan teman. Tentunya hubungan tersebut memiliki tujuan, seperti hubungan kita terhadap guru yang pada dasarnya bertujuan agar kita dapat menimba ilmu dari nya. Tujuan tersebut haruslah kita jaga agar proses transfer ilmu berjalan dengan baik serta tujuan dasar untuk memperoleh ilmu tercapai dengan sempurna.

Islam sebagai agama yang sempurna, yang memiliki pedoman hidup terbaik bagi manusia tidak luput memberi arahan bagi manusia dalam menjalin hubungan, terutama hubungan pada Allah subhanahu wa ta’ala (hablum minallah) dan hubungan pada sesama manusia (hablum minnannaas). Kedua hal ini memiliki keterkaitan, dimana ketika hablum minallah kita baik, maka insyaa Allah setiap langkah dan perbuatan baik kita akan mendapat berkah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Pernahkah kalian merasa tiba-tiba ada kemudahan atau pertolongan yang datang saat kita terkena musibah? Pernah kah merasa seakan-akan urusan duniawi kita dipermudah? Hal tersebut dapat berbuah dari hablum minallah kita yang sedang intens. Hal yang sebaliknya dapat terjadi pula. Ketika kita merasa hubungan dengan orang sekitar memburuk, dan urusan duniawi membelenggu, coba evaluasi dan perbaiki hablum minallah kita.

Agar dinamika hablum minallah stabil, maka dapat kita membuat Relationship Goals kita pada Allah subhanahu wa ta’ala. Contohnya, kita membuat target pencapaian ibadah secara harian seperti melakukan ibadah sunnah dan membaca Al Quran. Meskipun goals nya tidak dirasakan secara langsung, tapi percayalah ada suatu balasan  baik yang akan diberi pada kita, baik di dunia maupun di akhirat. Balasan tersebut dapat membuat lupa akan lelah dan letih kita saat memperjuangkan Relationship Goals pada Allah subhanahu wa ta’ala.

Setelah hablum minallah, mari kita beralih pada hablum minnannaas. Islam sangat menekankan untuk menjaga adab hubungan antar sesama manusia, terutama pada orangtua dan orang terdekat atau teman.

Islam mewajibkan hukum berbakti pada orangtua. Di dalam Al Quran perintah untuk berbakti pada orangtua disebutkan sebanyak 13 kali. Dari surat  tersebut setidaknya kita bisa mengklasifikasikan ada enam macam bentuk perintah Allah SWT untuk berbuat baik kepada kedua orangtua.

  1. Perintah untuk berbuat baik dengan sebaik-baiknya. Contohnya memberikan penjagaan dan pemeliharaan di hari tua keduanya dan mengucapkan kepada keduanya perkataan yang mulia.
  2. Dalam bentuk wasiat. Pada surah Al-Ahqaf ayat 15, Allah SWT berfirman, “Kami wasiatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula).”
  3. Dalam bentuk perintah untuk bersyukur. Allah SWT berfirman, “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, karena hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (Qs. Luqman: 14).
  4. Perintah untuk mendo’akan kedua orangtua.
  5. Perintah untuk berwasiat kepada kedua orangtua. Allah SWT berfirman, “Diwajibkan atas kamu, apabila (tanda-tanda) kematian telah menghampiri salah seorang di antara kamu dan ia meninggalkan harta, berwasiat untuk ibu bapak dan karib kerabatnya secara makruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al-Baqarah: 180).
  6. Perintah untuk berinfaq kepada keduanya. Allah SWT berfirman, “… Setiap harta yang kamu infakkan hendaklah diberikan kepada kedua orang tua, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan setiap kebajikan yang kamu lakukan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (Qs. Al-Baqarah: 215).

Berbakti pada orang tua ada baiknya dimulai dari memperbaiki diri sendiri menjadi pribadi yang lebih baik, dan secara bertahap menambah ilmu agama serta menyeimbangkan dengan ilmu dunia. Mengapa harus ilmu agama? Karena ilmu agama sejatinya merupakan ­long-term investment yang masih berlaku ketika di akhirat kelak. Selain itu islam mempunyai hukum tersendiri yang harus dipatuhi berupa kaidah-kaidah fiqih.

Salah satu relationship goals antara anak dengan orangtua yang Allah janjikan adalah, jika sang anak mampu menghafal 30 juz Al Quran maka sang orangtua kelak akan diberi pakaian kemuliaan yang tidak dapat dinilai dengan dunia dan seisinya.

Mari evaluasi hubungan kita dengan orangtua. Enam poin yang telah dijabarkan diatas dapat menjadi salah satu patokan evaluasi. Sudah berapa banyak relationship goals yang tercapai?

Setelah mengevaluasi hubungan dengan Allah dan kedua orangtua, selanjutnya kita evaluasi hubungan dengan teman. Sesungguhnya kepribadian teman terdekat kita dapat menjadi cerminan bagi kepribadian diri sendiri sebagaimana sabda Rasulullah yang artinya “seorang mukmin cerminan dari saudaranya yang mukmin.

Seorang muslim boleh menjalin pertemanan dengan siapapun, namun islam sangat menganjurkan untuk memilih teman sejati pada lingkungan pertemanan yang positif, yang dapat membuat diri kita berkembang menjadi pribadi lebih baik. Rasulullah bersabda “Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, melihat gerak-geriknya teringat mati. Sebaik-baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap tetangganya.” (HR. Hakim)

Hubungan pertemanan yang kita jalani saat ini akan dibawa sampai akhirat kelak. Karena itu urgensi memilih teman akrab yang berlandaskan takwa sangat tinggi, sebagaimana firman Allah subhana wa ta’ala: Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf : 67)

Dalam islam sekiranya terdapat 4 tahapan yang dilalui saat menjalin proses pertemanan;

  1. Ta’aruf (perkenalan)

Ta’aruf tidak selalu identik dengan pernikahan karena konsep ta’aruf merupakan konsep umum. Dalam tahap ini seseorang secara perlahan saling bertukar informasi dengan temannya, seperti mengenai kepribadian, keluarga, aktivitas sehari-hari, dan lainnya.

  1. Tafahum (saling memahami)

Setelah mengetahui beberapa hal dari sang kawan, kini saatnya untuk memahami mereka. Sebagaimana kita tahu bahwa masing-masing individu itu unik. Masing- masing mempunyai karakter, pemikiran, serta kebiasaan yang berbeda. Saling memahami dimaksudkan agar perasaan seperti ‘tidak enakan’ atau ‘tidak cocok’ dapat diminimalisir dalam rangka menasihati. Bila hati telah terpaut dan jiwa telah terpadu, barulah persaudaraan seseorang dengan yang lainnya bisa berjalan mulus, bersih dan penuh rasa kasih. Hati manusia hanya bisa disatukan secara murni dan bersih apabila bermuara pada satu simpul ikatan yang fitrah. Simpul tali itu adalah aqidah. Inilah satu-satunya dasar berpijak, bertemu dan pengikat yang utuh dan abadi.

  1. Ta’awun (saling menolong)

Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang menghilangkan kesulitan dunia dari saudaranya, niscaya Allah akan menghilangkan daripadanya kesulitan hari kiamat. Barang siapa memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, niscaya Allah memberikan kemudahan padanya di dunia dan akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba Nya selama ia menolong saudaranya.” (HR Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, dan Nasa’i)

  1. Takaful (saling menanggung)

Disinilah muara dari hubungan pertemanan dalam islam. Seorang muslim yang telah mencapai tahap ini akan merasa sedih jika temannya sedih dan ikut gembira jika temannya bergembira. Dia akan senantiasa menolong temannya yang butuh bantuan. Pada tahapan ini ada sebuah sifat yang bernama Itsar, yaitu mendahulukan kepentingan saudaranya diatas kepentingan diri sendiri. Kepentingan yang dimaksud adalah kepentingan dalam hal duniawi, bukan akhirat.

Allah akan memberi ganjaran pada hambanya nya yang menjalin pertemanan berlandaskan takwa sebagaimana dalam hadis berikut:

“Di sekitar Arsy-Nya ada menara-menara dari cahaya, di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya, wajah-wajah mereka pun bercahaya. Mereka bukan para nabi dan syuhada, hingga para nabi dan syuhada pun iri kepada mereka.” Ketika para sahabat bertanya, Rasulullah menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling berkunjung karena Allah’.” (HR. Tirmidzi).

Itulah tiga jenis Relationship Goals yang harus kita capai dan evaluasi. Kepada Allah lah kita kembali, pada orangtua kita mintai restu, dan sang kawan sejati merupakan partner sekaligus kompetitor untuk berlomba pada kebajikan serta menasihati dalam kebaikan. Hubungan kita dengan Allah, orangtua dan teman akrab akan terus berlangsung hingga akhir hayat, dan akan diminta pertanggungjawabannya di kemudian hari. Maka dari itu mari kita lakukan evaluasi bersama selagi masih diberi kesehatan dan kelapangan waktu.

Wallahu ‘alam

Referensi

  1. http://annida-online.com/mana-yang-lebih-prioritas-hablumminallah-atau-hablumminannaas.html diakses pada 21 September 2016
  2. https://sipencariilmu.wordpress.com/2013/02/11/perintah-birrul-walidain-dalam-al-quran-al-karim/ diakses pada 5 November 2016
  3. https://almanhaj.or.id/3480-teman-bergaul-cerminan-diri-anda.html diakses pada 5 November 2016
  4. http://muslim.or.id/8879-pengaruh-teman-bergaul.html   diakses pada 5 November 2016
  5. https://zuhriyahjinan.wordpress.com/ngaji-yuuk/tahapan-ukhuwah-islamiyah/ diakses pada 7 November 2016

 

One thought on “3 Kinds of Relationship Goals that You Should Have

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *